5 January 2010

LATIHAN DASAR I'TIKAF. 1



Gambar ini adalah peta sederhana dari jaringan  dasar bidang kerja otak  sesuai dengan peta fungsi dalam pengendaliannya  .
rumus dasar aqal adalah
: [ I + R + M + P ]    atau  kiri + kanan + Belakang + Muka.
Plus (+) atau perekat himpunannya  adalah  Keinginan ( will ).
Rumusan tersebut hanya dapat disyariatkan melalui latihan dengan I'tikaf atau wakaf .
Maka membiasakan I'tikaf dengan tertib dan benar akan mencapai ketenangan diri [ Hening ].

Kiat mencapai hening [ zero ] adalah :
1. Berniat I'tikaf [ niat lillah ].
2. Duduk dengan rilek [ tidak bersandar ]
3. Gunakan pakaian yang longgar dan nyaman.
4. Kuatkan keinginan  ( W ) .
5. Nafikan segala yang melintas di  4 ruang  bidang jaringan satu persatu.
6. Nafikan getaran yang bergejolak dari 4 bidang  satu persatu.
7. Kuatkan W  sampai tiada yang melintas dan menggetarkan diri.
8. Ulangi sehingga diperoleh hasil yang nyata.
ke delapan  cara diatas adalah hanya dalam rangka untk belajar menggunakan Aqal untuk Ibadah.
Hal ini berbeda dengan rumusan dasar yang telah dicapai oleh para ahli meditasi non muslim di dunia seperti  peta dasar meditasi berikut ini  :


Peta ini biasa dipergunakan sebagai basic " Kundalini " dalam meditasi.

Dalam Latihan Dasar I'tikaf .1 :
Jaringan Otak berfungsi sebagai Pekerja  ( sebagaimana strata lebah / an Nahl ).
Bekerja mengosongkan bidang masing masing dari pengaruh dari luar diri.
Bidang (  I  ) Ilmu         : mengosongkan pikiran yang bergejolak.
Bidang ( R ) Rasa         : mengosongkan adanya syakwa sangka.
Bidang ( M )Memori     : mengosongkan kenangan buruk.
Bidang (  P ) Tenaga     : meredam gejolak dari pandangan , pendengaran dan perkataan.
Proses ini memerlukan latihan yang rutin dan bersunggung sungguh  untuk mencapai hasil berupa kondisi kejiwaan yang di redhoi Allloh.

I'tikaf dan perkembangannya.

I'tikaf memiliki kata dasar wakaf yang bermakna berhenti , belakangan ini pengertian i'tikaf telah berkembang menjadi berjuta-juta tafsiran yang masing masing tafsir itu berasal dari pendapat seseorang atau pendapat komunitas/ majlis sehingga ada yang mengatakan :
1. Itikaf itu berdiam diri dimesjid.
2. Itikaf itu dapat dilakukan sambil tiduran-nginap di masjid.
3. Itikaf itu dapat dilakukan dengan berdzikir dimasjid masjid.
4. Itikaf itu dapat dilakukan sambil makan minum dimasjid.
dan masih banyak tafsir / pendapat orang tentang itikaf yang semuanya berkiblat pada dasar niat ber-Itikaf sehingga perbuatan yang dilakukan diharapkan tetap dalam rangka Itikaf :
Niat iktikaf dilaksanakan sambil mendengar ceramah agama di masjid.
Niat iktikaf dilaksanakan sambil berdzikir menyebut asmaul husna di masjid.
Niat iktikaf dilakukan sambil makan minum bersama di masjid.
Semua itu adalah kenyataan yang dapat disaksikan di masjid masjid.

Benarkah semua hal itu .........?

Benar atau tidak ,kesimpulan itu hanya dapat diperoleh dari dasarnya pengetahuan (strata ilmu) seseorang.
Strata ilmu itu sendiri memiliki minimal 7 ( tujuh ) tingkatan , dimana masing-masing tingkatan adalah dibatasi adanya batas kemampuan mengelola fikiran yang berada di dalam jaringan serebum kiri otak manusia.
Dasar pengertian awal I'tikaf adalah " berhenti"[wakaf].
Apa yang selanjutnya yang dihentikan atau yang berhenti ketika seseorang itu berniat i'tikaf ?
Pertanyaan ini akan dijawab berdasarkan strata pengetahuan yang dimiliki.

Dari kenyataan I'tikaf seperti diatas ,penulis baru menangkap satu tujuan seseorang ber-I'tikaf di masjid secara berjamaah adalah dalam rangka memakmurkan atau meramaikan kegiatan masjid yang dipakai sebagai sarana ibadahnya.

-=> aqal <=- LinkShare  Referral  Prg