1. Itikaf itu berdiam diri dimesjid.
2. Itikaf itu dapat dilakukan sambil tiduran-nginap di masjid.
3. Itikaf itu dapat dilakukan dengan berdzikir dimasjid masjid.
4. Itikaf itu dapat dilakukan sambil makan minum dimasjid.
dan masih banyak tafsir / pendapat orang tentang itikaf yang semuanya berkiblat pada dasar niat ber-Itikaf sehingga perbuatan yang dilakukan diharapkan tetap dalam rangka Itikaf :
Niat iktikaf dilaksanakan sambil mendengar ceramah agama di masjid.
Niat iktikaf dilaksanakan sambil berdzikir menyebut asmaul husna di masjid.
Niat iktikaf dilakukan sambil makan minum bersama di masjid.
Semua itu adalah kenyataan yang dapat disaksikan di masjid masjid.
Benarkah semua hal itu .........?
Benar atau tidak ,kesimpulan itu hanya dapat diperoleh dari dasarnya pengetahuan (strata ilmu) seseorang.
Strata ilmu itu sendiri memiliki minimal 7 ( tujuh ) tingkatan , dimana masing-masing tingkatan adalah dibatasi adanya batas kemampuan mengelola fikiran yang berada di dalam jaringan serebum kiri otak manusia.
Dasar pengertian awal I'tikaf adalah " berhenti"[wakaf].
Apa yang selanjutnya yang dihentikan atau yang berhenti ketika seseorang itu berniat i'tikaf ?
Pertanyaan ini akan dijawab berdasarkan strata pengetahuan yang dimiliki.
Dari kenyataan I'tikaf seperti diatas ,penulis baru menangkap satu tujuan seseorang ber-I'tikaf di masjid secara berjamaah adalah dalam rangka memakmurkan atau meramaikan kegiatan masjid yang dipakai sebagai sarana ibadahnya.
-=> aqal <=-


No comments:
Post a Comment